Kasih Tuhan Melalui Saya
A story by Abimanyu Danendra Andarfebano • March 2026
Nama: Abimanyu Danendra Andarfebano
NRP: 5025231182
Kelas: Agama Kristen
Tugas: God’s Love through Me
Sebagai mahasiswa Teknik Informatika di ITS yang juga menekuni dunia bisnis perdagangan internasional, saya sering kali merasa harus menjadi sosok yang "serba bisa" dan kuat. Tahun lalu, saya mencoba melangkah lebih jauh dengan menjajaki peluang ekspor biji kopi lokal ke pasar luar negeri. Awalnya, semuanya tampak menjanjikan. Namun, dunia ekspor ternyata jauh lebih keras dari yang saya bayangkan. Ada tekanan besar untuk menjaga standar kualitas, ketepatan waktu, hingga urusan logistik yang sangat kompleks. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan organisasi, beban ini sering kali membuat saya merasa sesak dan sendirian.

Saya ingat betul satu momen yang menjadi ujian terberat saya. Saat itu, saya sedang mengurus pengiriman sampel besar untuk calon buyer penting di luar negeri. Namun, terjadi kendala teknis pada dokumen karantina dan logistik di pelabuhan yang membuat pengiriman tertunda cukup lama. Risikonya sangat nyata: jika pengiriman ini gagal atau kualitas kopi menurun karena terlalu lama tertahan di suhu yang tidak stabil, reputasi saya hancur dan modal yang saya kumpulkan dengan susah payah akan hilang. Malam itu, di depan laptop dengan tumpukan email yang belum terbalas, saya merasa benar-benar hancur. Saya merasa gagal sebagai pengusaha dan mulai meragukan jalan yang saya pilih.

Di tengah keputusasaan itu, saya berhenti sejenak dan berdoa. Saya tidak meminta mukjizat agar masalah selesai dalam sekejap, tetapi saya meminta ketenangan. Di situlah saya merasakan kasih Tuhan yang sangat nyata, bukan dalam bentuk solusi instan, melainkan dalam bentuk keberanian untuk jujur. Saya memutuskan untuk menghubungi buyer tersebut dan menceritakan kendala yang terjadi apa adanya, tanpa menutup-nutupi kesalahan. Saya sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk: mereka akan membatalkan kontrak. Namun, kasih Tuhan bekerja melalui hati manusia. Secara mengejutkan, buyer tersebut justru sangat mengapresiasi kejujuran saya. Mereka berkata bahwa di dunia bisnis, integritas lebih mahal harganya daripada ketepatan waktu sekali kirim. Mereka bahkan memberikan kelonggaran waktu dan bantuan teknis. Di momen itu, saya menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Ia menunjukkan kasih-Nya bukan dengan menghilangkan badai, tetapi dengan memberi saya kekuatan untuk tetap berdiri tegak dan berintegritas di tengah badai tersebut.

Pengalaman tersebut mengubah cara saya memandang pekerjaan dan pelayanan saya kepada Tuhan. Saya menyadari bahwa setiap biji kopi yang saya kirimkan bukan sekadar komoditas, melainkan titipan Tuhan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Kasih Tuhan telah memulihkan rasa percaya diri saya yang sempat patah. Respon saya terhadap kasih-Nya adalah dengan bertekad untuk menjalankan bisnis ini dan juga studi saya dengan semangat kejujuran dan kerja keras. Saya tidak lagi takut akan kegagalan di masa depan, karena saya tahu bahwa ada tangan Tuhan yang senantiasa menopang dan mengarahkan langkah saya. Saya siap untuk terus bergerak maju, membawa semangat kasih ini dalam setiap karya yang saya buat.